Selasa, 26 Agustus 2008
Yang Harus Dipersiapkan Oleh Teman-teman TFM Untuk Mengajukan Invoice
1. Teman-teman TFM menandatangani : Kwitansi, Berita Acara Pembayaran (BAP)dan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan (BASTP) (data tersebut dapat teman-teman download dengan cara meng-klik Tempat Menyimpan Data Kami (ada diatas sebelah kanan) lalu masukan alamat email tfmregionallima@yahoo.com dengan pasword semangat45 ).
2. Laporan teman-teman dijilid sebanyak 3 rangkap
3. Kesimpulan dari nomor 1 dan 2, maka pusat hanya menerima berkas dari teman-teman TFM adalah sebagai berikut: 1. 2 (dua) lembar kwitansi yang sudah ditandatangani oleh teman-teman TFM (yang satu ditandatangani diatas materai). 2. BAP yang sudah ditandatangani (1 lembar). 3. Berita Acara Serah Terima Pekerja yang sudah ditandatangani (1 lembar) 4. laporan teman-teman tfm sebanyak 3 rangkap.
4. Untuk SSP tidak usah kirim lagi yah.... terimakasih
Senin, 25 Agustus 2008
Pengumuman Batch 2 SEGERA
Jumat, 15 Agustus 2008
Tolong Yahhhhhh
Dengan Hormat, Dengan ini kami sampaikan kepada teman-teman TFM yang cantik dan ganteng, agar menyampaikan biaya mapping per Kabupaten selama setahun, sehubungan dengan adanya perbedaan BBM setiap daerah dan berbagai masalah yang timbul karena adanya fluktuasi harga BBM sebagai patokan biaya operasional teman-teman dilapangan. kami harapkan informasi tersebut realistis karena data tersebut kami keperluan untuk menyusun anggaran yang diperlukan setiap daerah di tahun 2009 dan data tersebut agar dikirim ke alamat email andri_trisandi@yahoo.com dalam waktu yang tidak terlalu lama. Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih.
Perkembangan invoice ke 3 dan 4
Temen-teman TFM Ytg/c, Dapat kami informasikan bahwa invoice temen-temen untuk bulan ke 3 dan ke 4 sudah sampai ke PUMK dan sedang di tandatangani, jadi saya perkirakan invoice tersebut akan masuk ke rekening pada minggu ke 3 bulan ini, Kami juga gak bisa berbuat banyak karena kami hanya sebatas menyiapkan dari teman-teman untuk ditendatangani oleh pejabat di Direktorat. Mohon ditunggu saja dengan sabar yah, dan do'akan saja supaya Regional Management Consultant (RMC) cepat terekrut, sehingga Gajinya gak terlambat terus. Terimakasih
Hikayat Kisah Teladan
Umar Bin Abdul Aziz
Sejarah mencatat, pernah lahir seorang pemimpin [khalifah] yang berhasil membawa rakyat dan negerinya mencapi kesejahteraan dan kemakmuran. Saking sejahteranya, tak ada seorangpun dari rakyatnya yang beredia menerima zakat, sehingga perlu diumumkan kepada semua penduduk negeri, bahwa siapa yang membutuhkan dan menggunakan, bahkan untuk biaya pernikahan sekalipun. Dialah Umar Bin Abdul Aziz yang juga dikenal dengan sebutan Umar II.
Umar lahir tahun 63H [682M] di Halwan, sebuah desa di Mesir. Ayahnya Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Guberbur Mesir adik Khalifah Abdul Malik, sedangkan ibunya bernama Ummu Usim adalah cicit Khalifah Umar bin Khaththab. Semasa kecil ia tinggal di Madinah dan dibesarkan dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang pewari hadits terbanyak. Setelah ayahnya meniggal, ia dipanggil ke Damaskus oleh Pamannya Kahlifah Abdul Malik, dan dinikahkan dengan putrinya Fatimah.
Kemudian pada 706 M, Umar ditunjuk oleh Khalifah Al Walid I menjadi Gubernur Madinah. Dimasa menjadi gubernur Madinah inilah tersiar kisah yang amat masyur. Dalam sebuah versi dikisahkan, saat Umar berada diruang kerjanya, sang istri meminta dipersilahkan masuk, tetapi ia meminta istrinya untuk mengganti lampu yang digunakan dengan lampu miliknya sendiri. "Kita tak boleh menggunakan lampu yang dibiayai dari baitul mal untuk kepentingan pribadi kita," katanya kepada istrinya.
Setelah kahlifah Sulaiman bin Abdul Malik [Al Walid II] wafat, ia ditunjuk sebagai Khalifah. Meski Umar enggan menerimanya, semua rakyat sepakat dan berbai'at kepadanya. Pada hari kedua setelah dilantik dan setelah menyampaikan khotbah umum, ia pulang sambil menangis dan ditegur istrinya, " apa yang engkau tangiskan?" ia menjawab " Wahai istriku, aku sedang diuji dengan jabatan ini. Aku teringat pada orang-orang yang miskin, janda, anak-anak yang rezekinya sedikit. Aku tahu, ia di akhirat kelak mereka akan menuntutku dan aku takut tak bisa menjawab tuntutan mereka, karena yang menjadi pembelanya adalah Rasulullah SAW" mendengar jawaban itu, istrinya pun ikut menangis. Ini sebuah hikayat yang patut kita teladani para pemimpin kita semua.
Sejarah mencatat, pernah lahir seorang pemimpin [khalifah] yang berhasil membawa rakyat dan negerinya mencapi kesejahteraan dan kemakmuran. Saking sejahteranya, tak ada seorangpun dari rakyatnya yang beredia menerima zakat, sehingga perlu diumumkan kepada semua penduduk negeri, bahwa siapa yang membutuhkan dan menggunakan, bahkan untuk biaya pernikahan sekalipun. Dialah Umar Bin Abdul Aziz yang juga dikenal dengan sebutan Umar II.
Umar lahir tahun 63H [682M] di Halwan, sebuah desa di Mesir. Ayahnya Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang Guberbur Mesir adik Khalifah Abdul Malik, sedangkan ibunya bernama Ummu Usim adalah cicit Khalifah Umar bin Khaththab. Semasa kecil ia tinggal di Madinah dan dibesarkan dibawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang pewari hadits terbanyak. Setelah ayahnya meniggal, ia dipanggil ke Damaskus oleh Pamannya Kahlifah Abdul Malik, dan dinikahkan dengan putrinya Fatimah.
Kemudian pada 706 M, Umar ditunjuk oleh Khalifah Al Walid I menjadi Gubernur Madinah. Dimasa menjadi gubernur Madinah inilah tersiar kisah yang amat masyur. Dalam sebuah versi dikisahkan, saat Umar berada diruang kerjanya, sang istri meminta dipersilahkan masuk, tetapi ia meminta istrinya untuk mengganti lampu yang digunakan dengan lampu miliknya sendiri. "Kita tak boleh menggunakan lampu yang dibiayai dari baitul mal untuk kepentingan pribadi kita," katanya kepada istrinya.
Setelah kahlifah Sulaiman bin Abdul Malik [Al Walid II] wafat, ia ditunjuk sebagai Khalifah. Meski Umar enggan menerimanya, semua rakyat sepakat dan berbai'at kepadanya. Pada hari kedua setelah dilantik dan setelah menyampaikan khotbah umum, ia pulang sambil menangis dan ditegur istrinya, " apa yang engkau tangiskan?" ia menjawab " Wahai istriku, aku sedang diuji dengan jabatan ini. Aku teringat pada orang-orang yang miskin, janda, anak-anak yang rezekinya sedikit. Aku tahu, ia di akhirat kelak mereka akan menuntutku dan aku takut tak bisa menjawab tuntutan mereka, karena yang menjadi pembelanya adalah Rasulullah SAW" mendengar jawaban itu, istrinya pun ikut menangis. Ini sebuah hikayat yang patut kita teladani para pemimpin kita semua.
Langganan:
Postingan (Atom)